Duh, terlambat lagi. Moga bukan dosen ‘tiiiiiit’ yang suka
suruh tutup pintu dari luar.
Seorang senior :
“Eh! Mau kemana?”
Saya :
“Yah, mau kuliahlah. Mangnya kemana
lagi?”
Seorang senior :
“Kuliah? (melihat penampilan saya dari
atas sampai bawah) Benarjikah? Lihat kakimu! Dasar preman!”
Saya : “Duh, k! Dua menit lagi dosennya masuk k!
Sudah yah! Dah!”
Dosennya belum masuk. Katanya beliau lagi ikut pelantikan
gubernur. Bukan dia yang jadi gubernur kok kayaknya harus wajib nangkring di
situ? Kewajibannya tuh ngajar, malah
diabaikan hanya karena pelantikan pejabat. Betul-betul semua sudah
terkontaminasi politik.
Sambil duduk, seperti biasa saya memilih kursi di deretan
yang agak belakang. Hahahaha! Mataku tertuju pada sandal jepitku. Apa
hubungannya sandal jepit dan preman? Kalau memang ada, apakah….
Memang preman tidak
boleh kuliah? Peragawati dan model-model yang menganggap kampus seperti Mall
bisa kuliah. Masak saya yang hanya bisa berseliweran di pasar tradisional tidak
boleh? Ceritaku pada BEE, sebuah tempat sampah kata-kataku.
Tiga puluh menit menunggu dosen, akhirnya absen saja. Saya
yang rajin, gilirannya dosen malas. Cape deh! Kuhibur lagi diriku, lagian kuliah kan hak, bukan kewajiban.
(ngeles.com)
Sakuku bergetar, oh… sms. Dari seorang senior, saya cukup
akrab dengannya.
Dtngko dek lihatkak dibantai!diRuangan Laboratorium Fakultas
Sebenarnya gak penting hadir atau tidaknya saya di sana.
Yang penting : kartu presensi skripsiku terisi lagi satu. Dan yang paliiiiiiing
penting adalah kuenya. Hahahahah!
Berjalan gontai saya ke sana. Sengaja pula saya sok
basa-basi ma pegawai dan mahasiswa yang kebetulan ketemu di perjalanan. Kesal!
Giliran saya datang pagi, eh.. dosennya gak datang! Grrrhhhhh…!
Sampai di ruang eksekusi, sedikit ramai karena banyak orang
yang punya visi misi sama dengan saya. Kuenya malah sudah dimakan ma
teman-teman yang ada di situ…
Loh, kue yang kayak begitu kan biasanya untuk dosen.
Si calon tereksekusinya malah loyo!
Saya :
“Napakik k? Kok belum dimulai?”
Calon tereksekusi : “Tidak akan dimulai hari ini, Dek!”
Saya :
“Lho, kenapa?”
(Dia semakin sedih! Berusaha menenangkan pikiran!)
Seorang teman :
(sambil membantu beresin) “Kedua
pembimbingnya dan semua pengujinya pergi ke pelantikan gubernur!”
Sh**t. Kurang ajar! Kasiyannya
itu kakak dan teman-teman yang hari ini proposal dan skripsi. Dia sudah beli
banyak kue, persiapan sana(i) tapi ujiannya harus tertunda…
Dengan kemeja digantungkan dipundak, dia terduduk loyo di
tempat anak-anak LORHIT (Lorong Hitam) ngumpul. Benar-benar pem’bantai’an
perasaan. (080408)