Rinai hujan basahi aku
temani sepi yang mengendap
kala aku mengingatmu
dan semua saat manis itu
Segala seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap tak’kan berubah
Aku selalu bahagia
sat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri ooohhh..ooo
Selalu ada cerita
trsimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita
yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini
untukku ooohhh…
( HUJAN - UTOPIA )
Hujan mengantarkanku pada kenangan bersama seorang teman sedolanan yang paling pertama mengajakku berhujan-hujanan. Dia melebarkan tangannya, menyambutku bergabung dengannya untuk merasakan ketukan-ketukan air hujan yang menyasar ke dirinya.
Ajakkannya saya tolak, betapa sakitnya memikirkan dikenai serangan peluru air yang banyak. Maka dia sendiri yang akan menarikku, memelukku di tengah air yang terus menumpahi… ‘jangan takut, saya melindungimu! Ini butuh pembiasaan!’.
Sambil memejamkan mata dia menengadah ke atas, setengah mati bernafas karena ruang kosong telah disesaki air. Dan saat dia merasakan lengan kecilku meregang di pinggangnya, matanya berkata ‘nah, nggak apa-apa kan?’
Seketika… kami menari persembahan kepada langit agar hujan tak mereda. Hujan belum berhenti, namun pesta-hujan dihentikan oleh kemarahan Mak kepada kami, terutama terhadap dia yang telah memprovokasi ‘Adikmu kau ajak juga! Bagaimana kalau kalian sakit!’ tegur Mak sambil menyelimutiku…
Setelahnya kami jarang berpesta-hujan lagi karena menghindari Mak marah. Namun, kami akan bertemu dengan mereka lewat jendela yang belum bisa kugapai. Maka dia akan mendorongkanku sebuah sofa ruang tamu agar wajahku dan wajahnya bisa berdampingan melihat hujan.
Kepadaku dia berdongeng, tentang kekacauan yang terjadi di langit. Terjadilah perang yang dipersenjatai cahaya yang bernama kilat dan berbunyi guntur. Maka wanita dan anak-anak yang ada di negeri awan menangis sejadi-jadinya agar pihak yang berperang berdamai. Akan ada cahaya SELAMAT DATANG warna-warni berpendar dari perayaan kedamaian setelah perang usai. Lingkaran itu dinamai Pelangi…
Naluri kanak-kanakku berimajinasi, menggambar dengan jari telunjukku sebuah wajah gadis kecil kumiripkan dengan diriku di jendela yang dilapisi titik-titik air, kunamai ‘lukisan air’, dan kutoleh dirinya sedang menulis namanya diekori nama Bapak terkasih… Dia menyadari mataku mengarah kepadanya. Dia menghentikannya karena dia selalu malu memperlihatkan tulisannya kepada orang lain. Dia mengalihkan suasana dengan menunjuk ke gambarku.
‘Ada yang kurang’ katanya, kemudian dia membantuk dua buah tanduk mengarah ke bawah di antara bibir sang gadis. ‘Kamu kan bergigi gingsul! Nanti kamu jadi drakulaaaaa…!’ dia selalu mendongeng gadis yang bergingsul akan jadi drakula dewasanya. Dia tersenyum menang menampakkan lesung pipinya, berhasil mengelabuiku agar dia tak tenggelam dalam rasa malu karena tulisannya. Kugebuki dia, tapi dia tetap menertawaiku…
‘Kau, punya lesung pipi. Kau akan jadi rembulan karena punya banyak bekas luka jatuh di wajahmu. Bulan kan jelek seperti mukamu…’ balasku… Kami akan terus bertengkar sampai suara Mak meleraikan kami dari arah dapur. =)